Cerita Horror Stories Indonesia -MISTIS- Cerita Seram Pendek, Horor Nyata Indonesia. Kumpulan Cerita Mistis, Cerita Hantu, Cerita Malam, Kisah Mistis

Cerita Horror Stories Indonesia

Cerita Horror Stories Indonesia

Cerita Horror Stories Indonesia -MISTIS- Cerita Seram Pendek, Horor Nyata Indonesia. Kumpulan Cerita Mistis, Cerita Hantu, Cerita Malam, Kisah Mistis

Cerita Horror Stories Indonesia -MISTIS- Cerita Seram Pendek, Horor Nyata Indonesia. Kumpulan Cerita Mistis, Cerita Hantu, Cerita Malam, Kisah Mistis

Jimat Main | Cerita Hantu Penghuni Mess – Ketika Keindahan Berubah Menjadi Ketakutan Kalian terlampau melebih-lebihkan. Berdasarkan keterangan dari saya, ini hanyalah benda biasa yang memiliki segi lebih dari keanehan dan barangkali bernilai harganya.

Keris atau kujang yang sedang di tangan Minto segera saya ambil pulang dan segera mungkin membungkusnya kembali. Berdosa rasanya bila menyaksikan orang yang telah begitu meyakini hal-hal yang mempunyai sifat mistis bakal menjadi lebih percaya lagi sebab efek keanehan keris atau kujang tua ini.

“Kau pernah berguru, Za?” tanya Indra melanjutkan rasa penasarannya.
“Maksudmu apa, Ndra? Jangan pernah beranggapan saya pernah berguru menggeluti hal-hal laksana itu.”
“Kau tetap enggak percaya dengan urusan yang mistis, Za?”

Saya tidak dapat pungkiri lagi. Sebelum menginjakkan kaki di mess ini, saya adalahsosok yang sangat merendahkan pemikiran orang-orang yang berpikiran sempit yang tidak jarang kali menghubung-hubungkan semua gejala alam yang mengherankan dengan sesuatu yang berbau misteri. Master Domino QQ.

Akan tetapi sekitar saya sedang di mess ini ada sekian banyak macam kejadian mengherankan yang susah saya sampaikan dengan akal sehat. Yang sangat akhir ialah ketika saya menyuruh Hesti guna bercumbu di dalam kamar. Tampak sekali raut mukanya yang kaget seakan-akan menyaksikan sesuatu di dalam kamar saya.

Begitu pun dengan keris orang pintar yang dapat terpental dengan sendirinya. Hati kecil saya berbicara mungkin memang benar adanya eksistensi makhluk-makhluk tidak kasat mata itu. Namun, pulang lagi pemikiran sehat saya menolaknya. Pemikiran sehat saya melulu mengakui semua tersebut hanyalah sebuah gejala alam yang belum dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan ketika ini. Agen Poker QQ.

“Jawab Za ? Lahhh… Koq justeru bengong. Terus apa maksudmu mengindikasikan keris atau kujang itu?”

Kini Minto mengupayakan melanjutkan pertanyaan Indra yang belum terjawab.

“Sebuah pembuktian,” jawab saya mantap.
“Pembuktian laksana apa?”

Mendengar pertanyaan Indra, tergelitik kemauan saya untuk mengisahkan semua kejadian yang bersangkutan dengan keris atau kujang itu. Tampak keseriusan di wajah mereka memperhatikan setiap detil kalimat saya.

“Hahh… Yang benar kau, za? Harimau!!?” ucap minto nyaris berteriak.

Indra dan Mas Dikin mencoba menyimak kembali keris atau kujang yang sengaja saya letakkan di atas meja. Master Domino 99.

“Kalau kau tanya, apa omongan saya mengenai harimau tersebut benar, tentu saya jawab enggaklah. Saya sendiripun belum pernah melihat format harimau itu.”
“Logikanya laksana ini. Kakek tua, orang pintar, dan Hesti. Andai memang benar menyaksikan sosok harimau itu, mereka tersebut pun pun manusia laksana kita. Makannya sama. Matanya sama. Seharusnya apa yang mereka lihat, kitapun dapat melihatnya.”
“Sebelum saya memperlihatkan benda ini pada Hesti, saya hendak membuktikan apakah benda ini memang memiliki aura kekuatan. Di lokasi tinggal ini… Malam ini juga.“
“Jangan gila, Za. Saya takut,” ucap Indra sarat kekhawatiran.
“Ahh… Gimana sih, Ndra. Tadi kata kau inginkan dukung saya.”
“Saya dukung cari latar belakang mess ini, Za, bukan nantangin macam ini.”
“Udah ikut aja, Ndra. Soalnya kita fobia atau enggak fobia hasilnya sama aja. Itu makhluk penunggu mess ini tidak jarang kali mengganggu.”

Terlihat keraguan di wajah Indra mendengar anjuran Minto. Karena opsi berbanding 3 lawan 1, kesudahannya Indra menyimpulkan ikut serta. Master Kiu Kiu.

“Mas Dikin, salah satu ruangan di lokasi tinggal ini, di unsur mana Mas Dikin tidak jarang diganggu kejadian aneh?”
“Di unsur dapur dan kamar mandi. Akan tetapi, di dapur lebih tidak jarang terjadi gangguan, sebab di situ lokasi ditemukannya kerangka-kerangka itu.”
“Baiklah, Za. Semua rencana telah siap. Sebaiknya saya sama Minto cari hiburan di luar dulu, sebelum nanti malam saya stress nemenin kau.”

Indra sambil unik tangan Minto. Terlihat Minto mengupayakan mengajak Mas Dikin.

“Sebaiknya saya di lokasi tinggal aja pak, nemenin Pak Reza,” tolak Mas Dikin.
“Ya sudah. Kalau begitu, saya pun mau istirahat dulu. Semoga nanti malam semuanya berlangsung lancar,” jawab saya seraya melangkahkan kaki mengarah ke kamar tidur.

Lama saya tertidur. Sayup-sayup suara Mas Dikin terdengar. Agen Bandar 99.

“Bangun Pak Reza… Bangun.”
“Oalahhh Pak Reza. Maaf… Saya tadi bangunin, soalnya saya cemas melihat Pak Reza tidurnya lama sekali.”

Mas Dikin mengingatkan saat melihat kehadiran saya dari balik pintu kamar, kemudian bergegas melangkah mengarah ke dapur. Tampaknya dia sedang menyiapkan sesuatu. Tanpa beranggapan lama segera saya mendekat Mas Dikin, dan benar estimasi saya ternyata Mas Dikin telah menyiapkan makanan untuk santap malam.

“Mana Indra dan Minto?”
“Temenin saya makan, mas.”

Saya menyuruh Mas Dikin santap malam guna menghilangkan rasa sepi. Tampak Mas Dikin tidak membalas dan melulu menganggukkan kepalanya. Bandar Sakong 99.

“Pak Reza jadi hendak membuktikan apa yang direncanakan tadi siang?” tanya Mas Dikin tanpa sekalipun tatapannya memandang saya.
“Kenapa, mas? Mas Dikin fobia atau ragu? Enggak terdapat yang butuh ditakutin dan dikhawatirkan” jawab saya mengupayakan memberi ketenangan dan keberanian untuk Mas Dikin.
“Lagian Mas Dikin kan sudah tidak jarang lihat setan di film-film horror. Masak mesti kaget dan fobia lagi, andai bertemu dengan mereka,” ucap saya seraya sedikit tertawa mengupayakan mengajak Mas Dikin bercanda.
“Saya enggak takut, pak.”

Seiring perkataan Mas Dikin, sekarang tercium bau bangkai yang menyeruak menusuk hidung. Hampir masing-masing malam sekitar saya sedang di mess ini, bau tersebut selalu terhirup tanpa mengenal masa-masa kedatangannya. Sirna sudah kemauan saya guna melanjutkan santap malam ini. Bau bangkai yang saya rasakan malam ini benar-benar melebihi bau malam-malam sebelumnya. QQ 99 Online.

Tampak Mas Dikin sama sekali tidak terganggu dengan bau bangkai ini. Dia masih tampak santai memainkan sendok di tangannya. Melihat tingkah Mas Dikin yang sedemikian rupa, perasaan saya yang sebelumnya biasa-biasa saja seketika menjadi tidak biasa dan tak nyaman.

“Ada apa dengan orang ini? Mas Dikin yang sebelumnya membangkitkan saya dengan nada cerianya sekarang terlihat dingin dan tidak energik untuk sebatas berbicara. Apakah dia seketika sakit?” tanya saya dalam hati.
“Mungkin dia memang melulu ingin bertingkah laksana itu. Adakalanya seseorang merasa nyaman dengan tingkah laku yang malah dinilai orang sebagai tingkah laku yang aneh,” kataku dalam hati.
“Besok-besok, bantu beli pengharum ruangan mas. Bau ini benar-benar telah mengganggu,” pinta saya untuk Mas Dikin.
“Terus sama lampu di ruangan ini, mas, bantu diganti dengan yang lebih terang.”
“Biarkan saja, pak. Jangan diganti.”

Akhirnya Mas Dikin menerbitkan suaranya. Ada rasa gembira mendengar Mas Dikin yang akhirnya inginkan berbicara. Akan namun ada rasa dongkol pun yang saya rasakan mendapatkan perkataan penolakan yang terbit dari mulut Mas Dikin. Sangat terasa tidak sopan permintaan saya yang paling sederhana menemukan penolakan laksana itu. SakongkiuAgen Bandar Poker QQ.

Bila dalil penolakan ini disebabkan tidak terdapat yang mau menerbitkan uang melulu untuk melakukan pembelian sebuah lampu, maka saya yang akan menyerahkan uang untuk melakukan pembelian lampu tidak melulu satu buah lampu … >> Cerita Horror Stories Indonesia

“Akan tetapi… Lampu tersebut sudah tampak redup, mas. Saya harap kelak digan…”

Belum sempat saya melanjutkan perkataan ini, tiba-tiba bola lampu tersebut seperti menerbitkan pijaran api dan seketika padam kemudian menyala lagi dalam sekejap.

“Ti…”
“Saya tidak takut, pak.”
“Apaan sih, mas,” ucap saya jengkel menyaksikan ketidakjelasan maksud perkataan Mas Dikin.
“Saya tidak takut, pak.”

Kali ini suara Mas Dikin tampak lebih berat dan serak. Tangan yang semula memainkan sendok sekarang terlihat bergerak ke arah kepala, laksana orang yang sedang membereskan rambut.

Dalam setiap usapan tangannya, sekarang terlihat sejumlah helai rambut yang ikut tertarik dan tampak lepas dari kulit kepalanya. Sungguh menjijikkan sekaligus menakutkan. Kulit kepala yang terlepas rambutnya tersebut meninggalkan luka laksana luka kulit yang terkelupas.

Semua kejadian ini sontak menciptakan saya kaget. Akan tetapi, seluruh hanya dilangsungkan dalam sekejap. Kini seluruh menjadi suatu suasana mengerikan penuh dengan ketakutan. Bergetar rasanya tubuh ini menonton semua itu. Agen Bandar QQ Domino.

“Saya tidak takut, pak.”

Kini wajah Mas Dikin yang sejak tadi tertunduk ke arah piring makan, perlahan-lahan mengusung pandangannya ke arah saya. Ini bukan Mas Dikin yang saya kenal. Wajah tersebut nampak begitu tua dengan keriput yang mulai menghiasi kulitnya, tampak kusam dan menyeramkan. Aliran darah dan detak jantung saya laksana berhenti menonton ini semua.

“INI TIDAK NYATA…!!! INI TIDAK NYATA…!!!”

Saya mengupayakan memberanikan diri salah satu rasa ketakutan itu. Sebelum semuanya terasa terlambat, saya beranikan diri untuk terbit dari kondisi Cerita Horror Stories Indonesia dengan mengupayakan berlari salah satu persendian-persendian yang mulai terasa kaku. Sungguh efek fobia ini telah mematikan seluruh susunan saraf pergerakan saya. Semua terasa lambat.

Baca Juga : Cerita Horor Sekolahan Angker

Di antara tahapan kaki yang terasa berat ini, masih dapat saya saksikan tatapan matanya yang begitu tajam dan menyeramkan. Antara dua pilihan guna berlari mengarah ke kamar istirahat atau berlari mengarah ke pintu terbit rumah. Saya memilih berlari sekuatnya mengarah ke pintu terbit rumah, walaupun dengan tahapan yang terasa semakin berat. TBC_